Mengenal Metodologi Penetapan “Hari Raya” : Rukyat & Hisab

Oleh Arie Nugroho

Seperti yang telah kita ketahui, pemerintah melalui Menteri Agama telah menetapkan Idul Adha pada tanggal 17 November 2010. Sementara, jauh-jauh hari Muhammadiyah melalui pimpinan pusat-nya telah menetapkan Idul Adha jatuh pada 16 November 2010. mengapa bisa seperti itu ?

Berangkat dari persepsi bahwa ibadah adalah sesuatu yang sangat penting dan utama bagi orang beriman. Segala macam upaya ditempuh untuk melaksanakan perintah agama itu supaya ibadahnya diterima oleh Allah swt. Sehingga tidaklah mungkin orang yang berakal sehat melakukan sesuatu untuk Tuhannya tanpa berharap sesuatu yang dilakukannya itu akan diterima oleh Tuhannya. Nah, singkatnya, tidak mungkin orang yang beriman, apalagi orang-orang beriman yang terhimpun dalam suatu jamaan, baik itu dalam jamaah resmi negara maupun swasta seperti Muhammadiyah melakukan keputusan yang asal-asalan, dan tidak berlandaskan pada kebenaran.

Tentu saja perbedaan penetapan hari raya bukanlah karena sesuatu yang main-main. Masing-masing tentu saja memiliki metodologi yang kuat dan diyakininya. Dan tidak mungkin pula masing-masing melepaskan metodologi yang diyakininya tersebut demi toleransi atau persatuan umat, bangsa dan negara.. Ooh…tidak sesederhana itu saudara. Yakinlah, toleransi, hidup rukun saling menghormati, didapat tidak harus dengan mengorbankan apa yang diyakininya. (ANTITESA PLURALISME). Toleransi hanya di dapat oleh orang yang memiliki kedewasaan berpikir dan kebijaksanaan bertindak. Dan saya rasa kita semua sepakat, bahwa kedewasaan berpikir linear dengan tinggat intelektualitasnya, wawasannya, pengetahuannya. Dan kebijaksanaan hanyalah miliki orang yang berpengalaman. Kita telah memiliki 2 potensi itu saudara-saudaraku. Kita sudah bertahun-tahun memiliki pengalaman hidup dilingkungan yang plural, yang beranekaragam. Tentu sangat mudah bagi kita untuk bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan.

Sekarang marilah kita gali sebagai landasan inteletualitas kita, mengapa muncul 2 pendapat dalam penetapan hari raya ini :

Para ulama sepakat, bahwa dasar penetapan waktu hari raya atau hari dimana kita berpuasa didasarkan pada hadits shahih ini :

Apabila kamu semua melihat hilal, maka berpuasalah. Apabila kamu sekalian melihatnya lagi, maka berbukalah (mengakhiri puasa/lebaran). Dan apabila mendung, maka estimasikanlah (menggenapkan bulan yang sedang berjalan mejadi 30 hari)

(HR. Bukhari)

Hadits di atas dapat ditafsirkan seperti ini :

Penafsiran pertama, kita akan memulai puasa (Ramadhan) ketika kita melihat hilal (bulan baru), atau ketika hilal terlihat, atau ada diantara kita yang melihat hilal. Kunci dari penafsiran pertama ini adalah terlihatnya hilal oleh seorang atau banyak orang, yang secara fiqh harus disumpah dulu atas nama Allah atas kesaksiannya melihat hilal. Bila hilal terlihat, maka besoknya kita puasa atau berlebaran. Tapi bila hilal tidak terlihat, mungkin karena mendung, atau mungkin karena sudutnya masih terlalu kecil sehingga mustahil dilihat oleh mata manusia, maka mau tidak mau, bulan harus digenapkan 30 hari. Atau dengan kata lain, kita puasanya atau lebarannya mundur 1 hari.

Penafsiran yang pertama inilah yang dijadikan landasan Metode Rukyat. Jadi patokannya adalah TERLIHATNYA HILAL. Masa bodoh dengan kata ahli astronomi dan falaq yang mengatakan bahwa hilal sudah wujud atau sudah terbentuk, POKOKNYA kalau hilal belum terlihat atau tidak berpotensi untuk untuk dapat dilihat, maka dianggap belum masuk bulan baru. Jadi kita belum bisa lebaran atau belum bisa puasa, karena hilal tidak terlihat (meskipun ilmuwan menyatakan bahwa hilal sudah terbentuk).

Nah, metodologi inilah yang dipakai pemerintah dalam penetapan hari raya atau awal bulan Ramadhan. Akan tetapi yang patut disayangkan, metodologi ini tidak dipakai dalam penetapan awal bulan dan waktu-waktu yang lainnya. Terbukti dengan sistem penanggalan dan waktu yang sudah dibuat dalam bentuk kalender-kalender yang ada di rumah-rumah kita ternyata menggunakan metodologi lain. Mengapa bisa demikian ? Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang.

Contoh kasus dari metode rukyah yang dipake pemerintah : Penetapan Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1431 H. Untuk menetapkan kapan Idul Adha-nya, maka harus ditetapkan dulu tanggal 1 dzulhijjahnya. Menurut perhitungan / hisab (jadi sebenarnya penganut rukyah juga menggunakan hisab, dan percaya keakuratannya, tapi cuma sebatas alat bantu untuk dapat menentukan apakah hilal dapat terlihat atau tidak), hasil perhitungan menyatakan bahwa bulan akan habis pada tanggal 6 November 2010. Maka seperti yang kita ketahui, menteri agama ramai-ramai mengumbulkan para ulama untuk melakukan sidang isbat di sore harinya. Nah, dalam perhitungan menyatakan bahwa pada waktu maghrib tgl 6 November 2010, hilal hanya wujud kurang dari 2 0 di atas ufuk. Jelas ini mustahil untuk dilihat. Karena tidak terlihat, atau rukyat tidak mungkin untuk dilakukan, maka diputuskan bahwa bulan dzulqa’idah 1431 H digenapkan menjadi 30 hari. Sehingga tanggal 7 November 2010 masih bulan dzulqa’idah. Atau dengan kata lain, 1 Dzulhijah 1431 H jatuh pada tanggal 8 November 2010. Dengan demikian, Idul Adha jatuh pada 10 hari kemudian, atau tanggal 17 November 2010.

Sekarang marilah kita lihat perspektif lain dalam memahami hadits Nabi di atas.

Penafsiran kedua, kita akan berpuasa Ramadhan jika kita memang sudah masuk bulan Ramadhan, atau kita akan berlebaran jika kita memang sudah masuk bulan syawwal. Nah dengan apa kita menentukan bahwa hari sudah masuk bulan Ramadhan atau syawwal ? Ya dengan ditandai dengan sudah adanya hilal. Bagaimana kita mengetahui kalau hilal sudah ada ? Kalau di jaman Nabi ya dengan melihatnya langsung. Jaman Nabi belum sampai kepada pengetahuan perbintangan (falak dan astronomi). Sehingga untuk memastikan hilal sudah wujud atau belum tidak ada cara lain kecuali dengan melihatnya. Jika memang terlihat, ya berarti sudah ganti bulan. Kalau belum terlihat, kita genapkan saja bulan berumur 30 hari. Itulah satu-satunya cara. Hal mengenai bahwa jaman itu kita belum bisa berhitung falak dan astronomi diberitakan sendiri oleh Nabi dalam suatu hadits shahih : ”Bahwa kami umat yang tidak pandai. Kami tidak pandai menulis dan menghitung. Bulan itu ada yang 30 hari, ada yang 29 hari.”

Jelas yang dimaksud ”tidak pandai” tentu saja tidak pandai dalam perhitungan astronomi dan falaq, bukan tidak pandai berhitung dalam perdagangan. Karena jaman Nabi perdagangan sudah cukup maju. Jadi hadits inilah yang menjelaskan mengapa penentuan awal bulan sebagaimana yang dilakukan Nabi dilakukan dengan melihatnya langsung (rukyat).

Karena substansi dari hadits di atas adalah penetapan awal bulan, maka cara-cara untuk menetapkan awal bulan bisa sangat fleksibel. Prinsipnya adalah yang akurat, tepat dan mudah dalam pelaksanaannya.

….. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…..(Al Baqarah : 185).

Dengan dasar itulah kemudian muncul Metode Hisab untuk menentukan waktu-waktu ibadah. Tidak hanya menentukan Ramadhan, Idul Fitri atau Idul Adha, semua waktu-waktu ibadah dapat menggunakan metode hisab dengan tetap mengikuti kriteria-kriteria waktu yang sudah ditentukan oleh Rasulullah Muhammad saw. Metode ini juga di dasari pengertian bahwa matahari dan bulan itu kan bergerak pada orbitnya masing-masing, dengan waktu rotasi dan revolusi yang konstan atau tetap. Sehingga titik-titik letak antara Matahari-Bumi-Bulan sangat bisa dipelajari, dihitung dan dibaca tata letaknya pada sepanjang waktunya. Hal ini telah dikabarkan Allah Sang Pencipta Alam Semesta dalam Al Quran :

QS. Yunus : 5

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

QS. Az Zumar : 5

Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

QS. Yasin 38 – 40

Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Khusus dalam penentuan awal bulan qamariah, Muhammadiyah menggunakan metode wujudul hilal. Jadi yang menjadi patokan adalah wujud hilal. Kalau hilal sdh wujud, berarti masuk bulan baru. Kalau belum wujud, berarti belum bulan baru. Berapapun derajat posisi hilal di atas ufuk, selama bulan ada di atas ufuk begitu matahari tenggelam, itu berarti hilal sudah wujud, dan bulan sudah berganti bulan baru. Tidak peduli hilal terlihat atau tidak.

Contoh kasus dari metode hisab yang dipake Muhammadiyah : Penetapan Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1431 H.

Dengan metode hisabnya (wujudul hilal), Muhammadiyah telah bisa membuat sistem perkalenderan hijriyah dengan tingkat konsistensi dan akurasi yang tinggi. Muhammadiyah sebenarnya sudah menetapkan Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 H jatuh pada tanggal 16 November 2010 sejak awal pembuatan kalender itu sendiri.

Pada perhitungan menyatakan, pada waktu maghrib tgl 6 November 2010, hilal hanya wujud di atas ufuk meskipun besarnya kurang dari 2 derajat. Dengan dasar itu sudah dapat diambil keputusan bahwa tanggal 7 November 2010 sudah masuk tanggal 1 Dzulhijah 1431 H. Sehingga 10 hari kemudian, atau tanggal 16 November 2010 Muhammadiyah akan berlebaran Idul Adha.

Risalah Khilafiah/Perbedaan Pendapat

Perbedaan ini harapannya tidak membuat umat Islam pecah. Karena bagaimana pun juga, perbedaan penafsiran dari sebuah pesan atau perintah Allah dan Rasul-Nya itu sangat mungkin terjadi. Bahkan perbedaan pun ada diantara para sahabat, tatkala mereka masih bersama, masih ada ditengah-tengah Nabi Muhammad saw. Dalam hadits yang di riwayatkan Imam Bukhari, dalam suatu peperangan dengan Banu Quraidhah, tatkala umat Islam akan menuju ke tempat Banu Quraidhah, Nabi saw bersabda, ” Janganlah ada seorangpun yang shalat ashar kecuali setelah sampai di Banu Quraidhah.” Setelah waktu ashar tiba, maka timbulah perbedaan pendapat itu. Kelompok pertama mengatakan, ” Kami tidak akan shalat sehingga kami sampai di Banu Quraidhah.” Sedangkan kelompok yang lain menyatakan, ” Kami akan melakukan shalat (Ashar) sekarang. Karena bukan itu yang dimaksud Nabi saw.”

Dan setelah hal itu dilaporkan Nabi saw., Nabi tidak menyalahkan salah satunya atau keduanya. Semua dinilai benar oleh Nabi. Yang satu benar karena KETAATANNYA, dan yang lain benar karena KEPAHAMANNNYA.

Waalahu’alam bi shawab. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari semua ini.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Terima kasih atas komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s