Sudahkah Indonesia Merdeka?

--Bulan Ramadhan tahun 1432 H ini benar-benar membawa kenangan terindah bagi muslim Indonesia karena berjalan bersamaan dengan bulan Agustus seperti yang pernah terjadi enam puluh enam tahun lalu saat terjadi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 M  itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan yang terkenal dengan peristiwa besar  Nuzulul Qur’an. Suatu keberkahan tersendiri bagi muslim Indonesia di mana peristiwa Nuzulul Qur’an yang menurut sebagian besar ulama terjadi pada tanggal 17 Ramadhan  dimungkinkan merupakan permulaan Lailatul Qadar (malam kepastian). Dari sinilah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini diyakini sebagai titik awal kepastian nasib bangsa Indonesia untuk hidup lebih baik, meskipun sampai saat ini nasib bangsa Indonesia masih juga tidak pasti.

Berbicara mengenai bangsa, Wikipedia mendefinisikan sebagai suatu kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama, dan mempunyai kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan atau sejarah, Di dalam Al-Qur’an, kata yang berarti bangsa banyak ditemukan. Al-Qur’an menyebutnya dengan berbagai istilah. ada yang disebutkan menggunakan kata ummat, syu’ub , naas, dan ada juga yang disebutkan menggunakan kata qoum.

Firman Allah swt sebagai berikut.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [الحجرات/13]

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al-Hujuraat (49): 13).  

Ayat lain menjelaskansebagai berikut.

 “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” (Q.S.  Al-Maidah (5): 21 – 22).

Demikian itu istilah Al-Qur’an menyebutkan kata yang berarti bangsa. Pada dasarnya kata kebangsaan terbentuk dari kata  bangsa  yang  dalam  Kamus Besar    Bahasa   Indonesia diartikan   sebagai kesatuan orang-orang yang sama asal keturunan,  adat istiadat,  bahasa  dan sejarahnya,    serta   berpemerintahan   sendiri. Penyatuan dan pengelompokan itu pada umumnya dianggap memiliki asal-usul keturunan yang sama.Sedangkan kebangsaan diartikan sebagai ciri-ciri yang menandai golongan bangsa.

Sebenarnya saat Al-Quran diturunkan,  konsep kebangsaan belum dikenal, karena konsep  ini baru  muncul  dan berkembang di Eropa mulai akhir  abad  ke-18. Dari sana disebarkan oleh Napoleon ke seluruh dunia Islam. Ia mula-mula memperkenalkan konsep ini ke Mesir yang ketika itu negeri Mesir dikuasai oleh para Mamluk yang berada di bawah kekuasaan kekhalifahan Utsmani. Walaupun penguasa-penguasa Mesir itu beragama  Islam,  tetapi  mereka  berasal  dari  keturunan orang-orang Turki, yaitu Turki Utsmani.  Napoleon  mempergunakan  kondisi  ini  untuk menghasud, memisahkan  dan  menjauhkan  orang-orang  Mesir asli dari penguasa  dengan  menyatakan  bahwa  orang-orang Mamluk adalah orang-orang asing yang tinggal di Mesir. Dalam pelaksanaannya, ia menyampaikan maklumat  dengan menggunakan istilah Al-Ummat Al-Mishriyah (bangsa Mesir), yang kemudian istilah baru ini mendampingi istilah lama yang telah dikenal rakyat mesir, yaitu Al-Ummah Al-Islamiyah (bangsa muslim).

Kalau sekiranya pengertian bangsa atau nasionalime seperti tersebut di atas, maka dapat dipastkan terjadinya bangsa atau seseorang berkebangsaan adalah karena dilatarbelakangi oleh perbedaan-perbedaan atau kesamaan-kesamaan kepentingan sebagaimana yang dilakukan oleh bangsa mesir setelah ada hasudan Napoleon.  Al-Qur’an mensinyalir hal ini sebagai berikut.

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. (Q.S. Al-Baqarah (2): 213).

Indonesia mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam, pejabat-pejabatnya pun demikian, sudah seharusnya mampu meneladani kepemimpinan Rasulullah saw, baik ketika beliau masih di Makkah atau  setelah hijrah dan menetap di Madinah. Beliau berhadapan dengan beraneka ragam kepercayaan agama seperti yahudi, nasrani, sebagian orang-orang kafir, munafiq, dan sebagainya, namun pemerintahan beliau berjalan dengan baik dan sukses, rakyatnya betul-betul sejahtera. Pejabat-pejabatnya mempunyai sifat yang mendekati sifat-sifat beliau, yaitu siddiq, amanah, fathonah, dan tabligh. Kita ambil contoh  bagaimana keikhlasan Abu Bakar membela, berjuang, berkorban dengan jiwa, raga, dan hartanya untuk membantu perjuangan Rasulullah, kedisiplinan, dan ketegasannya tidak diragukan lagi untuk menegakkan kebenaran dan supremasi hukum, bukan sebaliknya, menggerogoti Negara dan menjual kebenaran. Kemudian kita tahu juga bagaimana sikap cerdas Umar bin Khatthab saat terjadi krisis kepemimpinan baik setelah Rasulullah saw wafat atau menjelang wafatnya sendiri, keberaniaannya menegakkan kebenaran dan supremasi hukum, kedisiplinannya, keikhlasannya berkorban untuk menyejahterakan rakyat, dan bersihnya dari KKN. Kemudian Utsman bin ‘Affan yang terkenal jujur, ikhlas, dermawan, tidak tamak, tidak rakus, tidak menipu, dan tidak mengorbankan rakyatnya demi kepentingannya sendiri. Demikian pula pejabat-pejabat yang lain, seperti Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Abu Ubaidah, Mu’adz bin Jabal dan sebagainya yang semuanya mempunyai modal tangan bersih dan hati suci.   

Indonesia Negara yang tingkat heterogenitas warganya sangat tinggi, terdiri dari beraneka ragam suku bangsa dan pengaruh geografisnya yang berbeda-beda sudah tentu melahirkan generasi-generasi yang mempunyai watak, karakter, kecenderungan, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Di samping itu, penduduk Indonesia terdiri dari macam-macam penganut agama yang berbeda-beda, termasuk juga aliran kepercayaan. Oleh karena itu, maka Negara harus dapat mengcover berbagai macam kepentingan dari berbagai macam penjuru daerah dan dari berbagai macam penganut agama dan kepercayaan sehingga terjadi dan terjalin kesatuan yang utuh dan harmonis. Dari tuntutan ini kemudian muncul satu keputusan final yang disebut UUD 1945 yang pembukaannya memuat rumusan dasar Negara yang disebut Pancasila.

Di dalam Pembukaan UUD 1945 alenia kedua disebutkan bahwa perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Dari teks di atas kita dapat memahami bahwa perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia mengantarkan  rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Para pahlawan pun telah berjuang dan berkorban demi kemerdekaan Negara Indonesia sehinga rakyat Indonesia diharapkan dapat merasakan nikmatnya kemerdekaan, persatuan, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran. Namun ironisnya, rakyat Indonesia enggan masuk kedalam Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur itu. Mereka tampaknya sudah merasa enak, nyaman, senang, dan bahagia hidup di depan pintu gerbang,  sehingga cita-cita untuk bisa masuk ke dalamnya tidak pernah mereka capai. Mengapa demikian? Karena bangsa Indonesia masih dalam cengkeraman penjajah, dijajah oleh kepentingan Negara luar baik segi ekonomi, budaya, maupun politik, dijajah oleh saudaranya sendiri, dan dijajah oleh perasaannya sendiri sehingga lupa akan agamanya yang mampu menuntun masuk kedalam Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Di sisi lain Indonesia yang menerapkan system pemerintahan yang demokratis berwawasan nasional (kebangsaan) berarti kekuasaan bagi rakyat dan berwawasan nasional berarti kesatuan bagi orang-orang  yang sama asal-usul keturunan,  adat istiadat,  bahasa  dan sejarahnya. Namun istilah ini telah berubah sejalan dengan laju zaman dan mengikuti perubahan pemikiran dan kepentingan manusia. Karena itu, maka Indonesia yang menganut system demokrasi mesti membentuk partai-partai politik untuk menegakkan dan mempertahankan Negara secara demokratis. Dari sini kemudian muncul partai-partai baru yang semuanya merasa mempunyai hak untuk memeroleh kekuasaan politik, merebut kedudukan politik untuk dapat melaksanakan kebijakan-kebijakan politik, di samping anggota-anggotanya juga mempunyai hak atas orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Teorinya mungkin demikian, tetapi praktiknya berbeda. Fungsi partai politik sebagai sarana komunikasi politik, sebagai sosialisasi politik, sebagai sarana rekrutmen anggota, sebagai sarana pengatur konflik tidak optimal dan tidak maksimal. Hal ini disebabkan partai-partai politik yang berkuasa lebih bercorak skuler dan wathaniyah (kebangsaan yang sempit), sedangkan partai-partai politik yang menyatakan sebagai partai Islam tidak atau bahkan tidak memiliki konsepsi (fikrah) yang  jelas dan tegas, secara umum hanya mementingkan partainya sendiri, tidak adanya kekompakan yang kuat antara partai-partai untuk berbuat kebaikan, amar makruf nahi mungkar bagi bangsa dan negaranya, kebanyakan pengurus partai bahkan menjadi anggota DPR yang telah menerima amanat dari rakyat kurang atau bahkan tidak memiliki keteladan yang baik. Inilah mungkin yang Nabi saw pernah bersabda tentang partai sebagai berikut.

لَيْسَ مِنَّامَنْ دَعَاإِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّامَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّامَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ (ابوداود).

 “tidak termasuk golonganku orang yang mendakwah kepada partai, dan tidak termasuk golonganku orang yang berperang atas nama partai, dan tidak termasuk golonganku orang yang mati atas membela partai”. (H.R. Abu Dawud).

  Itulah larangan Rasulullah terhadap mendakwah kepada partai politik. Mungkin beliau telah mengetahui bahwa pada praktiknya berpartai politik hanya akan menambah perpecahan bangsa karena masing-masing partai hanya akan berpikir dan berjuang untuk partainya saja, bangsa hanya sebagai kedok seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Oleh sebab itu, marilah kita semua berjuang demi menegakkan agama Allah swt. dengan saling membahu, saling menolong dalam upaya memasuki pintu gerbang hingga mampu berada di dalam Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Dalam hal ini Allah swt memerintahkan sebagai berikut.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

 “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS Al-Maaidah [5] : 2) 

Potongan ayat di atas mengandung dua maksud, yaitu perintah tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan kedua larangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Allah swt juga melarang kita semua cenderung kepada orang-orang yang dzalim sebagamana dijelaskan oleh ayat di bawah ini.

وَلاتَرْكَنُواإِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُوَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَثُمَّ لاتُنْصَرُونَ

 “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS Huud [11] : 113)

Tampaknya kita semua belum dapat masuk ke dalam Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur disebabkan di antaranya oleh pemberian kepercayaan kita kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tidak berbuat baik, tidak bertakwa, tetapi cenderung berbuat dosa, melanggar aturan, dzalim, mementingkan diri sendiri, munafik, dan menipu rakyat sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah saw berikut ini.

ليأتين على الناس زمان يكون عليكم أمراء سفهاء يقدمون شرار الناس ، ويظهرون بخيارهم ، ويؤخرون الصلاة عن مواقيتها ، فمن أدرك ذلك منكم ، فلا يكونن عريفا ولا شرطيا ولا جابيا ولا خازنا ) رواه ابو يعلى وابن حبان)

 “Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman, dimana yang ada atas kalian adalah pemimpi-pemimpin yang bodoh (umara sufaha) yang mengutamakan orang-orang yang jahat dan mengalahkan orang-orang yang baik di antara mereka, dan mereka suka menunda-nunda sholat keluar dari waktu-waktunya. Maka barangsiapa di antara kamu yang mendapati pemimpin-pemimpin seperti itu, janganlah sekali-kali dia menjadi pejabat (’ariif), atau menjadi polisi, atau menjadi pemungut harta (petugas pajak), atau menjadi penyimpan harta (bendahara).” (H.R. Abu Ya’la dan  Ibnu Hibban)

Terdapat hadis lain yang sama maksudnya dengan hadits di atas .

“Akan ada pada akhir zaman para pemimpin yang zalim, para menteri yang fasik, para hakim yang khianat, dan para fuqaha yang pendusta. Maka barangsiapa di antara kamu yang mendapati zaman itu, janganlah sekali-kali dia menjadi pemungut harta mereka (petugas pajak), atau menjadi pejabat mereka, atau menjadi polisi mereka.” (HR Thabrani).

Berdasarkan hadis di atas, jelaslah penyebab kita masih terus berada di depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur dan tidak segera masuk ke dalamnya  adalah karena kita sudah salah pilih dalam memberikan amanat kepada wakil-wakil kita sendiri, dan kita pun sudah ikut tertipu oleh wakil-wakil kita yang ikut menentukan warna dan corak pemerintahan Negara kita Indonesia tercinta ini. Wakil-wakil kita tidak ada yang mampu beramar makruf nahi mungkar karena mereka itu sudah berada di dalam lingkaran kekuasaan dengan melakukan koalisi dengan penguasa. Apalah artinya kita memilih yang lain kalau yang kita pilih masuk ke dalam lingkaran yang tidak kita pilih. Namun kita tak boleh berputus, kita harus terus berdo’a semoga Allah swt menunjukkan kita semua kepada jalan kebenaran, Amin.

Oleh: Julla Bee Imaratu (Kabid Kader PK IMM Sutan Mansur UNY/ Direktur LKSS JEDA/ Mahasiswa UNY 2009)

Pos ini dipublikasikan di Bacaan, Uncategorized. Tandai permalink.

Terima kasih atas komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s