Menggayuh Sepeda Organisasi

Wal takum minkum umatunyad’uuna ilal khoiri wa yak muruuna bil makrufi wa yanhauna anil munkar’.

Lihat, begitu pentingnya peran dari sebuah roda pada sepeda diantara komponen yang lainnya. Jika sepeda itu ingin dijalankan, maka roda yang ada pada sepeda itu harus diputar. Secara kasat mata digambarkan pengorbanan dari dua buah roda dalam sebuah sepeda itu. Roda itu rela menjadi topangan dan tindihan rangkai sepeda, walaupun berat ia tak pernah mengeluh, meskipun lelah ia tak pernah merintih, ia rela menginjakkan tubuhnya pada kerasnya aspal jalan, ia rela merasakan tidak meratanya permukaan tanah yang dilalui sepeda tanpa sedikitpun merasa iri kepada penggayuh sepeda itu. Dengan semangat konsisten dan dedikasinya kepada rangkai sepeda, ia pun berkorban tanpa keluh kesah demi dapat berjalannya sebuah sepeda itu menuju tujuan dan keinginan yang mulia dari penggayuhnya. Roda merupakan bagian yang sangat vital dari komponen sepeda yang lainnya, karena jika tak ada roda, maka sebaik dan sebagus apapun sepeda itu tetap tidak akan mampu untuk dijalankan.

Jika diibaratkan sepeda itu adalah sebuah organisasi, maka roda yang menopang jalannya sepeda itu adalah kepengurusan yang ada didalamnya. Baik-buruknya kinerja dan jalan suatu organisasi dapat ditentukan oleh dedikasi dan konsisten dari para pengurusnya. Jika mereka konsisiten dan kompak dalam bekerja maka jalan suatu organisasi itu akan mulus walaupun diterpa berbagai problema yang terjadi, semisal jalan yang tidak rata yang dilalui oleh sepeda organisasi itu atau mungkin ketika roda itu kempes tertusuk benda tajam dari jalanan yang dilalui (problem internal pengurus).

Jika ban roda itu bocor, maka sepeda itu tetap mampu berjalan tetapi dengan kondisi yang tidak stabil. Malah jika hal itu tidak diperbaiki lebih lanjut dan dibiarkan saja, lama kelamaan sepeda yang melaju itu akan terpental karena ketidakseimbangan antara penopangnya, dalam hal ini adalah kedua buah rodanya yang satu sama lain terdapat perbedaan volume masing-masing.

Tak jauh beda, suatu organisasi jika tidak ditopang oleh kekompakan kinerja pengurusnya maka organisasi itu akan terombang-ambing dalam perjalanannya menuju tujuan utamanya. Sebelum ban itu tertancap benda tajam dan kemudian kempes, alangkah baiknya kita harus mengendalikan jalannya organisasi itu dengan sangat berhati-hati tidak lengah dengan kondisi trayek didepan sana agar semangat yang terdapat dalam ban roda itu tidak kempes ditengah jalan.

Masalah internal pengurus merupakan bentuk dan bukti kurangnya perhatian dan perawatan dari sosok peemimpin yang ada dalam suatu organisasi tersebut. Disini seorang pemimpin kurang dapat mengayomi suara dan aspirasi dari penggurus yang lain dan komponen yang ada dalam tubuh organisasi. Ibarat sepeda pemimpin adalah penggayuhnya. Bukan roda yang satu merawat roda yang lain, bukan pula komponen yang satu memimpin komponen yang lain, tetapi pemimpin laju sepeda itulah yang harus senantiasa menjaga keadaaan tiap komponen sepeda agar tetap solid dan terpasang kuat pada tempatnya masing-masing. Ketika mulai kendor, pemimpinlah yang harus menguatkan tiap baut-baut motivasi pengurus, mengencangkan dengan alat yang sesuai dengan tiap komponennya masing-masing (dengan cara yang baik).

Roda, berputar dan terus berputar. Seperti halnya kehidupan manusia, seperti motivasi dalam tubuh manusia yang selalu berputar mengikuti alur kehidupan yang dilaluinya. Tak ada gading yang tak retak, karena kesempurnaan gading itu karena ada keretakannya. Kesempurnaan kinerja suatu organisasi akan semakin sempurna jika ia mampu mengendalikan keretakan yang mulai timbul dalam tubuh organisasi, dengan menyelesaikan permasalahan internal dari pengurus dengan menebarkan kebaikan padanya. berputarlah dengan lancar, jaga selalu kekompakan dan konsisten pada tempatnya, gayuh dengan kuat roda itu, agar sepeda itu dapat melaju mulus dalam alur perjalanan menuju arah kemana tujuan awalnya.

Suatu saat, ketika roda itu tak mampu dan sudah tak kuat menopang sebuah sepeda, maka dibutuhkan roda yang baru sebagai penggantinya. Tak perlu khawatir dengan hal itu, karena dengan membengkelkan sepeda itu, maka akan didapatkan komponen pembangun sepeda yang baru dengan semangat yang baru pula untuk dapat memajukan dan menjalankan sepeda itu lebih kencang, stabil, dan konsisten pada tujuannya.

‘Bike to work and work as bike’

Fastabiqul khoirots bil amar makruf nahi munkar, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat dan mampu membaikkan orang-orang disekitarnya.

*Imron Wafdurrahman / Sasindo ’11 UNY

Pos ini dipublikasikan di Bacaan, Uncategorized. Tandai permalink.

Terima kasih atas komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s