Habis Go Green, Terbitlah keluarga Kecil

Oleh: Faisal Isnan

Segala jerih payah, mulai dari pikiran, dana, waktu, tenaga, dan tak lupa serba “kekenyangan” masukan serta usulan dari berbagai pihak menghiasi perjalanan Go Green IMM UNY 2013. Seolah dikejar-kejar oleh waktu. Setelah ini harus itu, setelah ke sana, harus ke sini, habis menghubungi bapak ini coba ke bapak itu, atau setelah dari instansi swasta tersebut ke instansi negeri yang lebih bisa diandalkan. Saat melakukan, seakan ada sedikit perasaan terpaksa. Di pihak lain, ini semua harus tuntas, jangan menunda-nunda pekerjaan lagi. Kadang juga capek, jenuh, dan muak terselip di benak kita, entah pada akhirnya kita luapkan dengan cara seperti apa. Terkadang pula, tidur jadi tidak nyenyak, makan tidak selera, dan waktu-waktu kita harus dirampas demi terselenggaranya kegiatan yang merupakan pertama kali dilakukan oleh IMM UNY.  

Sebenarnya, Go Green sendiri merupakan program incidental atau program yang tak teragendakan sebelumnya. Namun, faktor apa yang membuat keyakinan kader-kader untuk dapat merealisasikan program yang semestinya digarap selevel DPD maupun DPP IMM ? IMM UNY memang bukanlah sebuah organisasi yang mapan, bukan juga rumah yang memiliki fasilitas yang serba ada. Berangkat dari serba kekurangan tersebut, IMM UNY masih diuntungkan adanya beberapa hal yang membuat segalanya dapat berjalan sampai hari ini. Dalam kenyatannya, IMM UNY memang tidak akan memberikan apa-apa kepada para kadernya. Tidak pula menjanjikan sesuatu –yang mungkin di organisasi lain dapat janjikan (seperti kedudukan, materi, dsb.). IMM UNY tidak bisa memberikan apa-apa, tapi justru kader-kadernyalah yang harus memberikan apa-apa kepada IMM. Berat, memang sebuah pilihan yang sulit. Siapa dan apa sih IMM UNY kok sampai tega-teganya dan berani-beraninya minta seperti itu?

Ber-IMM janganlah memilki pandangan atau tujuan untuk “mencari”, namun cobalah untuk “memberi”. Karena dengan “memberi”, IMM akan selalu dihiasi berbagai ide dan inovasi yang segar, namun masih dalam koridor tujuan ikatan. Beda jika kita hanya menginginkan sebuah kata “mencari”, bolehlah jika pada akhirnya apa yang dicari tersebut dapat ditemukan. Namun, jika pada akhirnya pencarian tersebut tidak ditemukan, lantas mau apa kita selanjutnya? Keluar? Mengumpat? Atau sekalian memberitahukan ke semua orang bahwa IMM tidak memberikan apa yang kita cari. Kembali lagi, jika pada sikap kita senantiasa “memberi”, dengan sendirinya kita dapat memperoleh sesuatu yang tidak kita inginkan sekalipun. Janganlah menjadi pribadi yang hanya ingin enaknya saja, jangan menjadi seseorang yang pragmatis dalam bingkai konotasi yang jelek.

Kader sejati adalah kader yang tidak kenal kata ”mutung”. Selalu menjalankan sesuatu sesuai dengan amanah yang telah diberikan. Tak jarang pula, yang ditemukan dalam IMM UNY adalah saling menopang dan mem-back up ketika yang lain sedang lesu. Kader sejati adalah ketika ketahuannya dalam memahami IMM, ia justru akan memeluknya erat-erat. Ia tahu, betapa bobroknya IMM dalam kampus negeri ini, tanpa adanya dia dan sebagian kecil kader yang masih peduli, IMM ini mau jadi apa? Makanya, kita kenali dulu IMM, jangan lantas membencinya sebelum kita memahaminya. Cukuplah kita menjadi pribadi yang selalu berpikir positif. Ketika yang lain tidak nampak, bukan berarti mereka tidak peduli. Mungkin saja, di dalam ketidakhadirannya tersebut, dia sedang mempersiapkan sesuatu. Dan bagi yang sering nampak, janganlah selalu merasa paling hebat sendiri tanpa mengindahkan perjuangan yang lain — meskipun hanya menyebarkan satu sms saja. Kita tidak harus tahu orang lain butuh kita atau tidak, yang penting kita selalu ada untuk mereka, selalu ada untuk IMM. Itulah arti sebuah keikhlasan.

Cerita epik Go Green ini, marilah kita jadikan sebuah langkah awal menyambut masa depan IMM UNY yang semakin jaya. Komunikasi kita pererat lagi, tanpa pandang bulu, dari mana jurusannya, almamaternya, dan daerahnya. IMM UNY (baca: PK IMM KH. Ahmad Badawi dan PK IMM AR. Sutan Mansur) adalah satu, yaitu tempat untuk membangun keluarga kedua setelah keluarga kita masing-masing. Talk like best friends, play like children, argue like husband and wife, protect each other like brother and sister mutlak harus kita jaga. Kita harus tahu tempat, sadar kondisi di mana saat kita harus tertawa dan bercanda bersama, serius pada saat rapat dan momen-momen formal, saling menyemangati saudara kita saat ada yang terpuruk, dan tidak ragu-ragu mengingatkan yang lain ketika menyimpang. Inilah sebuah keluarga kecil, selalu terbina ketika yang lain mampu saling menghargai, mengingatkan, dan menyemangati. IMM bukanlah sekumpulan orang-orang yang sudah sempurna iman dan perangainya, namun di sini kita menjadi keluarga yang bisa mengusahakan kesempurnaan iman dan perangainya tersebut.

Jika dikaitkan dengan Go Green IMM UNY yang belum lama ini sukses diselenggarakan, maka tidak berlebihan jika kita akan memperoleh buah dari perjuangan kita selama ini. Dengan sendirinya, apa-apa yang tidak sempat kita cari, inginkan, dan harapkan akan segera terwujud. Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Allah sesuai dengan prasangka hambanya. Dan di IMM adalah tempat untuk memproduksi amal-amal shaleh. Selamat datang era baru IMM UNY! Selamat datang anggota-anggota baru keluarga kecil IMM UNY!

Fastabiqul Khairat!!

Pos ini dipublikasikan di Bacaan, Uncategorized. Tandai permalink.

Terima kasih atas komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s