Membuka Kembali Semangat dan Ideologi IMM: Refleksi Jelang Setengah Abad IMM

Oleh: Faisal Isnan

Jelang setengah abad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini, perasaan gegap gempita serta huru-hara pastinya akan dirasakan oleh seluruh kader IMM se-Indonesia. Begitu juga dengan tokoh-tokoh pendiri IMM yang dari dulu berjuang dengan sekuat tenaga demi melahirkan salah satu organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah yang berbasis di kampus ini. Kemudian perjuangan tersebut dilanjutkan oleh kader-kader yang memiliki zaman dan tantangan yang berbeda. Meskipun tantangan dan zaman tersebut berubah, bukan berarti ideologi yang melatarbelakangi juga ikut berubah. Sejatinya, ideologi IMM merupakan bagian dari ideologi Muhammamdiyah. Artinya, ber-IMM juga ber-Muhammadiyah.

Ideologi jika dilihat secara konseptual (menurut KBBI) merupakan 1) sekumpulan konsep bersistem; 2) cara berpikir seseorang atau suatu golongan manusia;  3) paham, teori, dan tujuan yang berpadu merupakan satu program sosial politik. Lalu, apa sebenarnya ideologi Muhammadiyah? Dalam hal ini, erat kaitannya dengan historis dibentuknya Muhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri Muhammadiyah tentunya sadar betul alasan yang mendasar pembentukan Muhammadiyah. Beliau terinspirasi oleh surat Ali Imron (ayat 104): Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Berlandaskan dalil inilah –yang pada akhirnya– KH. Ahmad Dahlan merasa perlu mengimplementasikan secara konkret sehingga terbentuklah Muhammadiyah sebagai organisasi amar ma’ruf nahi munkar. Pada perkembangannya, ideologi Muhammadiyah dapat dipahami secarra komprehensif melalui rumusan-rumusan dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Masalah Lima, Kepribadian Muhammadiyah, Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, dan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Rumusan-rumusan tersebut, harus dipahami betul oleh segenap kader Muhammadiyah sehingga tidak ada lagi istilah kader yang melenceng dari pakem yang telah dibuat oleh elit Muhammadiyah tingkat pusat.

Sepertinya halnya dalam persyarikatan, IMM memiliki sistem hierarki dari tingkatan terkecil (Pimpinan Komisariat) sampai yang tertinggi (Dewan Pimpinan Pusat). Masing-masing tingkatan tersebut memiliki ranah dan peran masing-masing, namun masih dalam satu bingkai yaitu mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. IMM tidak menganut sistem sentralistik, dalam artian menunggu segala instruksi dari pusat. Namun, IMM dituntut untuk bergerak sesuai dengan kemampuan tingkatan masing-masing dengan cara kolektif-kolegial (cara bekerja bersama-sama dengan maksud dan tujuan yang sejalan).

Dalam tulisan ini, merupakan sebuah perenungan sekaligus pengingat bahwa kita di IMM telah memiliki berbagai semangat dan ideologi yang sejak dulu ditanamkan oleh generasi pertama IMM. Maka, tidak ada salahnya kita selalu mencoba mebuka-buka kembali semangat serta ideologi IMM ini serta terus menerus dikaji ulang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Tujuan IMM

Seperti yang sudah disampaikan di atas, tujuan IMM adalah mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah (Anggaran Dasar IMM pasal 7). Dalam tujuan tersebut, dapat diketahui dua kata kunci, yaitu berakhlak mulia dan tujuan Muhammadiyah. Tentunya, dalam bermuamalah (bergaul) dengan sesama haruslah memiliki sifat yang terpuji. Kader sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna ikatan seharusnya sadar kata kunci yang pertama ini. Inilah yang harusnya disadari betul oleh masing-masing kader (di berbagai tingkatan) agar senantiasa menjadi pembeda dengan gerakan lain. Akhlak mulia telah lama dicontohkan oleh Rasulullah (baca: Muhammad saw) kepada kita sebagai umat, maka sepatutnya kita sebagai kader IMM harus menjadi umat terbaik sehingga tujuan IMM tersebut tidak terkontaminasi oleh arus pragmatisme semu.

Kata kunci yang kedua, yaitu tujuan Muhammadiyah. Sebagaimana yang berbunyi dalam maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (Anggaran Dasar Muhammadiyah pasal 6). Maka, tidak berlebihan jika IMM dikatakan salah satu anak panah dari Muhammadiyah demi mewujudkan cita-cita Muhammadiyah tersebut. Bersama-sama dengan Ortom yang lain seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Pemuda Muhammadiyah (PM), Nasyaitul Aisyiyah (NA), dsb. mewujudkan cita-cita Muhammadiyah dalam berbagai lini. Artinya, IMM bertanggung jawab dalam ranah keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan.

 

Trilogi IMM

IMM tentunya memiliki nafas dalam bergerak dan berjuang, baik bergerak dalam ranah keagamaan, kemasyarakatan, maupun kemahasiswaan. Sering kali nafas itu disebut dengan trilogi yang kemudian melahirkan tri kompetensi IMM. Yang dimaksud dengan trilogi IMM adalah cakupan sifat religius, intelek, dan humanis. Ketiga cakupan tersebut bukan bersifat parsial, namun terintegrasi satu sama lain. Kita tidak bisa (hanya) mengandalkan intelektualitas semata dalam ber-IMM, namun perlu diingat bahwa selain sifat intelektual tersebut haruslah dilandasi dengan semangat religius serta humanis. Dalam praktiknya, memang setiap kader ataupun IMM memiliki ciri khas tersendiri. Ini yang kemudian perlu disadari bersama bahwa ketiga komponen tersebut haruslah saling melengkapi.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, religius berarti iman. Kemudian intelek dapat dimaksudkan dengan ilmu; dan yang terakhir adalah humanis yang bisa disebut dengan amal (perbuatan). Antara iman, ilmu, serta amal inilah yang perlu dihadirkan dalam perjuangan IMM tanpa melupakan satu dengan lain. Bayangkan, jika kita hanya berilmu namun tidak diamalkan dalam keseharian kita. Itu sama saja, kita hanya memikirkan diri sendiri tanpa dibagikan dengan yang lain. Kemudian, jika kita memiliki iman, tanpa dibarengi dengan ilmu, maka iman tersebut belumlah sempurna. Yang terakhir, jika kita hanya mengamalkan sesuatu tanpa dilandasi dengan iman serta ilmu, maka apa yang kita kerjakan merupakan kesia-siaan semata.

Maka dari itu, perlu menjadi renungan bersama, sebagai kader pantaslah jika kita menjadi pribadi yang cakap dengan keimanan (religius), kaya akan pengetahuan umum –baik itu ilmu eksak, ekonomi, maupun bahasa—(intelek), serta memiliki semangat untuk mengamalkan (humanis) atau action secara konkret sehingga apa yang kita lakukan dapat bermanfaat bagi sesama.

Enam Penegasan IMM

Dilihat dari keseriusan Muhammadiyah pada kala itu dalam proses kaderisasi. Maka, pada kongres seperempat abad Muhammadiyah (Kongres ke-25) pada tahun 1936 di Jakarta yang pada waktu itu PP Muhammadiyah diketuai oleh KH. Hisyam telah diputuskan bahwa Muhammadiyah akan mendirikan suatu Perguruan Tinggi. Berawal dari pendirian Perguruan Tinggi inilah yang membuat Muhammadiyah perlu membentuk suatu wadah bagi kader di ranah kemahasiswaan.

IMM resmi berdiri pada tanggal 29 Syawal 1383 H/ 14 Maret 1964 yangg diresmikan oleh PP Muhammadiyah  yang ketika itu diketuai oleh KH. Ahmad Badawi dan disaksikan oleh H. Tanhawi (selaku Badan Pembantu Harian Pemerintah DIY). Peresmian berdirinya IMM ditandai dengan ditandatanganinya “Enam Penegasan IMM” oleh KH. Ahmad Badawi. Adapun bentuk enam penegasan IMM tersebut adalah 1) menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam; 2) menegaskan bahwa kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM; 3) menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah; 4) menegaskan bahwa IMM adalah organisasi mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara; 5) menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah; 6) menegaskan bahwa amal IMM adalah Lillahi Ta’ala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat. Keenam penegasan IMM tersebut, haruslah dipahami betul oleh masing-masing kader bahwa penegasan tersebut termasuk ideologi IMM dan sampai kapanpun akan seperti itu.

IMM pada awal berdiri diketuai oleh Djasman Al Kindi berdasarkan hasil Pra-Musyawarah Nasional (Munas) pada tanggal 11-13 Desember 1964 di Yogyakarta, maka terbentuklah DPP Sementara. Kala itu, IMM betapa sangat siap atas kelahirannya dari Lembaga Muhammadiyah  langsung. Bukan saja Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, termasuk aturan-aturan lain, dalam arah gerak pun IMM sudah menemukan bentuk, yakni asas IMM berupa enam penegasan IMM di atas. Kelahiran IMM tidak dapat ditolak, justru IMM memang sangat diharapkan Muhammadiyah demi mewujudkan cita-citanya.

 

Ber-IMM Adalah Ber-Muhammadiyah

Dunia pergerakan atau biasa disebut dengan organisasi mahasiswa Islam selalu mewarnai serta menghiasi setiap universitas yang dinaunginya, tak terkecuali dengan pergerakan IMM yang selalu konsisten menyuguhkan nilai-nilai yang telah lama tertanam sejak organisasi ini dibentuk. Pada saat itu –ketika IMM dibentuk secara resmi– bertepatan dengan masa-masanya HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang sedang gencar dirusuhi oleh PKI dan CGMI serta terancam akan dibubarkan oleh rezim kekuasaan Soekarno. Sehingga, kemudian muncul anggapan dan persepsi yang keliru bahwa IMM didirikan adalah untuk menampung dan mewadahi anggota HMI jika dibubarkan. Itu tidak menjadi persoalan, karena itu merupakan catatan sejarah IMM, karena pada akhirnya IMM memilki jalannya sendiri untuk berjuang.  Lalu, di manakah peran IMM sebagai ortom Muhammadiyah yang berkecimpung di wilayah kemahasiswaan? Dan apakah perkaderan IMM itu sendiri mampu menghasilkan kader-kader yang nantinya akan menjadi tulang punggung oraganisasi Muhammadiyah?

IMM sebagai salah satu ortom Muhammdiyah yang senantiasa menjadi suatu wadah bagi Mahasiswa Islam yang ikut serta dalam berjuang membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. IMM bergerak dalam ranah keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan. Ketiga ranah tersebut yang nantinya secara bersama-sama akan mewujudkan cita-cita Muhammadiyah.  Memang, ada yang beranggapan bahwa ber-IMM adalah ber-Muhammadiyah, itu sudah menjadi sebuah harga mati bagi seorang kader yang mengaku seorang kader IMM. Karena IMM termasuk Ortom Muhammadiyah, maka khasanah keilmuan terkait dengan pemikiran dan pandangan akan selalu merujuk pada Al Qur’an dan As Sunnah. Idealnya, setiap anggota IMM secara sadar mau mengakui ideologi Muhammadiyah serta mampu mengamalkannya. IMM bersama ortom-ortom yang lain berusaha mewarnai di setiap aspek dalam kehidupan bermasyarakat, yang ujungnya akan membentuk kader yang berakhlak mulia.

Dalam perkaderan, IMM dimulai dari tingkat yang paling dasar atau biasa disebut dengan Pimpinan Komisariat yang menjadi tulang punggung sistem perkaderan dalam ikatan ini, karena dari sinilah seorang kader ditempa dan diberi pengalaman mengenai ke-IMM-an yang nantinya akan dibawa sampai ke tingkatan yang lebih tinggi lagi seperti PC, DPD, bahkan sampai DPP. Komisariat memiliki peranan yang sangat krusial karena bagaimana bisa menumbuhkembangkan jiwa ber-IMM kepada calon kader, bahkan semangat untuk bersama-sama menghidupi Muhammadiyah. IMM seperti halnya Muhammadiyah adalah organisasi yang sepatutnya bergerak secara amaliah, namun dengan dibekali ilmiah (ilmu) yang mantap. Setelah ber-IMM, seorang kader dituntut tidak berhenti sampai di situ. Muhammadiyah membutuhkan orang-orang yang secara tulus-ikhlas bersedia menyerahkan segala kompentensi yang dimilikinya dalam ber-Muhammadiyah. Berkembang serta mundurnya Muhammadiyah di masa mendatang, dapat dilihat dari kader yang sekarang.

KH Ahmad Dahlan pernah menitipkan pesan bahwa hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadihah. Artinya, kita sebagai kader penerus cita-cita Muhammadiyah harus mempersiapkan diri dari sekarang. Dalam ber-IMM adalah salah satu dari sekian cara untuk mengisi cita-cita Muhammadiyah.

 

Internalisasi Semangat “Anggun dalam Moral, Unggul dalam Intelektual”

Salah satu jargon IMM yang selalu didengung-dengungkan selain fastabiqul khairat ialah anggun dalam moral, unggul dalam intelektual. Tanpa kita sadari, bahwa sejatinya kita sebagai kader ialah menjadi pribadi yang mendekati keseluruhan sifat Rasulullah. Seperti halnya dalam tujuan IMM yaitu mengusahakan terbentuknya akhlak yang mulia. Ini menandakan bahwa yang diinginkan oleh pendahulu IMM yaitu ingin menjadi pengikut segala tindak-tanduk perilaku Rasulullah. Kader IMM sebagai pembeda dengan kader-kader pergerakan yang lain salah satunya adalah menjadi umat terbaik Rasulullah. Sehingga, IMM nantinya akan disegani oleh orang-orang di luar IMM.

Selain anggun dalam moral, kader IMM dituntut untuk unggul dalam inteletual (apapun ilmunya). Keilmuan tidak hanya dipandang secara sempit, artinya segala ilmu bisa dipelajari sesuai dengan latar belakang serta kecondongan kader terhadap suatu ilmu. Misalkan, sesorang yang berada di jurusan bahasa, tidak selalu dituntut untuk mengetahui ilmu-ilmu eksak, namun dengan dia mempelajari secara mendalam ilmu bahasa tersebut, maka dengan sendirinya ia memiliki ilmu yang dapat diunggulkan, memang minimal dari apa yang menjadi kebutuhan dia. Tidak lantas, kita saat mempelajari suatu ilmu dengan cara memakasakan kehendak kita terhadap kader-kader yang lain yang belum tentu dapat menerimanya.

Apapun background dan kelimuan seorang kader, jangan sampai kader miskin sifat kritis. Justru kekriktisan kader IMM menjadi semangat beramar ma’ruf nahi munkar. Saat dihadapkan persoalan bangsa yang begitu pelik, maka sebagai kader yang kritis maka harus cerdas dalam menyikapi serta menilai suatu persoalan tersebut. Haruslah dipahami dampak positif serta negatinya, jangan lantas demi mengatasnamakan mahasiswa yang krtis, kita tidak menganalisis secara mendalam dan ujung-ujungnya asal aksi secara anarkis. Ini yang akan menjadi bahan tertawaan masyarakat awam dan menilai bahwa semua mahasiswa sama. Maka, dalam ber-IMM kita perlu membuktikan serta menjadi garda terdepan dalam memberikan contoh yang baik bagi semua orang. Sepertinya semangat “anggun dalam moral, unggul dalam intelektual” perlu ditancapkan dalam masing-masing kader IMM.

IMM Sebagai Gerakan Mahasiswa, Kader, Intelektual, dan Dakwah

Secara pembagian peran, IMM memiliki peran yang strategis jika dibandingkan dengan Ortom-ortom yang lain. IMM merupakan sekumpulan orang yang dilatarbelakangi sebagai mahasiswa. Maka tidak mengherankan jika IMM disandingkan dengan pergerakan lain, seperti HMI, PMII, KAMMI, GMNI, dll. IMM sepertinya perlu berbangga hati karena memiliki induk yang sangat jelas (baca: Muhammadiyah) serta menjadi gerakan mahasiswa yang tanpa ditunggangi oleh suatu kepentingan partai politik tertentu. Sebagai gerakan mahasiswa, IMM haruslah berperan aktif dalam mengawal isu-isu kampus, seperti pamilwa, pilrek, maupun segala isu-isu yang lain. Jangan sampai IMM sepeti paguyuban, samar-samar dalam berjuang. Karena IMM adalah wadahnya para intelektual, maka IMM sebagai gerakan mahasiswa perlu menjadi organisasi yang dapat disegani.

Yang kedua, IMM sebagai kader persyarikatan. Seperti yang dijelaskan di atas (bagian ber-IMM adalah ber-Muhammadiyah), bersama Ortom-ortom yang lain IMM memiliki tanggung jawab dalam ranah kemahasiswaan. Bersama Ortom-ortom yang lain, semua memiliki peran masing-masing demi mewujudkan cita-cita Muhammadiyah yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Maka, sebagai kader, tidak lantas puas dengan satu ortom, justru dalam ortom tersebut menjadi potensi atau aset Muhammadiyah ke depan. Dimulai dari IMM, kemudian kembali kepada Muhammadiyah.

Selanjutnya, IMM sebagai gerakan intelektual. Dari semua Ortom yang ada di Muhammadiyah. IMM bisa disebut dengan gerakan yang menjunjung tinggi intelektual. Karena mahasiswa identik serta dekat dengan dunia keilmuan. IMM merupakan masa depan Muhammadiyah dalam ranah keilmuan, karena tidak sedikit dari tokoh-tokoh Muhammadiyah merupakan kader IMM di masa lalunya. Dengan semangat unggul dalam intelektual, diharapkan kader IMM menjadi pioner dalam hal keilmuan, karena dengan sifat kritis serta idealis yang ditonjolkan mahasiswa selama ini menjadi modal berharga bagi kelangsungan kelimuan dalam IMM itu sendiri. Moeslim Abdurrahman pernah mengatakan, “Saya melihat, dalam Muhammadiyah telah banyak orang yang larut untuk beramal shaleh dan menggunakan Muhammadiyah sebagai media beramal. Tetapi, ada satu hal yang tidak lazim ditemukan di Muhammadiyah yakni Muhammadiyah sebagai rumah intelektual.”

Yang terakhir, yang barangkali luput dari diri setiap kader dan mungkin juga gerakan ini hanya milik bidang tertentu serta orang-orang tertentu, yaitu IMM sebagai gerakan dakwah. Dakwah secara definisi yaitu mengajak (menyerukan) untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama. Seperti halnya gerakan intelektual, seharusnya gerakan dakwah harus digelorakan pada diri setiap kader, sehingga IMM yang begitu erat kaitannya sebagai gerakan dakwah dapat terealisasikan. Konsep dakwah di Indonesia sepertinya sudah terlalu mainstreim terhadap dai, kiai, maupun ustadz. Padahal dalam Muhammadiyah sendiri, siapapun dapat berdakwah meskipun dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki (meskipun hanya satu ayat). Dengan kesadaran ini, IMM tidak hanya disegani dari wilayah keilmuan dan amal, namun juga sebagai penyeru terhadap yang ma’ruf, dan pencegah terhadap yang munkar.

Ilmu yang Amaliah dan Amal yang Ilmiah

Semangat yang satu ini yang merupakan wujud pengaplikasian terhadap trilogi IMM yang telah dijelaskan di atas. Sesuai dengan nafasnya, IMM memiliki semangat religius, intelek, dan humanis. Ketiga komponen tersebut haruslah seirama dan sejalan tanpa menyampingkan salah satunya dalam ruh perjuangan. Ketika IMM yang merupakan sekumpulan mahasiswa yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu, inilah yang seharusnya menjadi potensi IMM ke depan.

Dengan segala disiplin-disiplin ilmu yang dimiliki oleh masing-masing kader, sangat wajar jika ilmu-ilmu tersebut dapat bermanfaat bagi sekitar. Misalkan, seorang kader yang berkuliah di jurusan  Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, maka dengan segala apa yang ia peroleh selanjutnya ditularkan kepada kader yang lain mengenai ilmu dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Setelah itu, yang semula tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, akhirnya dapat mempraktikkan dalam kegiatan sehari-hari. Kebermanfaatan itulah yang pada akhirnya disebut dengan ilmu yang amaliah. Seperti halnya Kiai Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah, beliau benar-benar megimplementasikan kandungan isi surat Al Ma’un sehingga dapat dirasakan oleh masyarakat (ketika itu) secara langsung.

Yang membedakan masyarakat masa kini (modern) dengan yang dulu adalah bagaiamana mempraktikkan sesuatu atas dasar apa. Jika masyarakat dulu masih sangat meyakini bahwa apa yang dilakukan oleh nenek moyang (sesepuh) yang dianggapnya sesuatu kebeneran tanpa harus dikaji ulang dasar melakukan sesuatu tersebut. Contohnya, dalam budaya memperingati kematian seseorang (7 hari, 40 hari, dst.) merupakan sesuatu yang mau tidak mau harus mereka lakukan, karena pendahulu mereka melakukan dan dianggap sesuatu yang benar. Namun, setelah dicari dasarnya (kandungan ayat maupun hadist mengenai seruan tersebut) tidak dapat ditemukan. Justru, mulai ditemukan fenomena lain bahwa tradisi tersebut merupakan tradisi agama Hindu. Berbeda dengan masyarakat masa kini yang sudah sangat cerdas dalam menerima suatu hal atau ilmu. Mereka (masyarakat masa kini) cenderung kritis serta berpikir secara logis dan sudah daat mengetahui kebermanfaatan suatu kegiatan atau aktivitas.

Maka, sudah seharusnya sebagai kader IMM jangan sampai terhanyut atau ikut-ikutan dalam pola pikir masyarakat zaman dulu, yang selalu menerima segala sesuatunya dengan mentah-mentah. Budaya kritis serta haus ilmu mutlak dibutuhkan kader IMM sehingga apapun yang kita miliki akan bermanfaat bagi sekitar serta melakukan sesuatu tidak cenderung asal-asalan dan tanpa dasar yang jelas.

IMM ini layaknya seperti rumah. Rumah tersebut belumlah sesempurna yang kita inginkan. Terkadang kita harus sering membersihkan kotoran-kotoran dan debu-debu dalam rangka menjaga keutuhan keindahan isi rumah tersebut. Kader-kaderlah penghuni rumah tersebut, mereka harus bahu-membahu mambuat keadaan rumah tampak indah dan nyaman. Jangan sampai rumah ini ketika getingnya bocor, pintu rusak lantas penghuni diam diri dan tidak menghiraukan kerusakan terjadi.

Sudah sepantasnya IMM tidak dipandang sebelah mata oleh kader-kader yang sedang berproses maupun calon-calon kader IMM yang akan berjuang dengan kesadaran serta keikhlasan hati untuk memperoleh ridha Allah swt sehingga yang dicita-citakan IMM dapat terpenuhi, yaitu menjadi akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka menwujudkan cita-cita Muhammadiyah. Semoga menjelang setengah abad IMM ini, kelak terlahir pemimpin-peminpin bangsa yang berasal dari IMM. Sehingga, akan menjadi Sang Pencerah dalam kondisi bangsa yang serba carut-marut ini. Momen itulah yang sejak dulu dirindukan oleh kader-kader IMM.

Pesan Kiyai Haji Ahmad Dahlan: Menjaga dan Memelihara Muhammadiyah bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Karena itu aku senantiasa berdoa setiap saat hingga saat-saat terakhirku aku akan menghadap Ilahi Robbi. Aku juga berdoa berkat dan keridlaan  serta limpahan rahmat karunia Ilahi agar Muhammadiyah tetap maju  dan bisa memberi manfaat bagi seluruh umat  manusia sepanjang sejarah dari zaman ke zaman (Munir Mulkan:2010:205).

Fastabiqul Khairat!!

Bibliografi

Departemen Pendidikan Nasional . 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Fathoni, AF. Farid. 1990. Kelahiran yang Dipersoalkan: Seperempat Abad IMM. Surabaya: PT Bina Ilmu.

MIM Indigenous School. 2013. Tak Sekedar Merah. Yogyakarta: MIM Indigenous School.

Mulkhan, Munir. 2010. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan: Dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Tanfidz: Keputusan Muktamar XV Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. 2012. DPP IMM.

www.muhammadiyah.or.id

Pos ini dipublikasikan di Bacaan, Uncategorized. Tandai permalink.

Terima kasih atas komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s