Merencanakan Husnul Khatimah

Oleh: Faisal Isnan

Sebagai makhluk yang bernyawa, pasti akan mati. Semua ciptaan Allah pasti akan menemui ajalnya. Begitu juga dengan manusia. Kita sebagai hamba harus sadar betul bahwa kita sebagai manusia akan mati, entah itu datangnya kapan dan dengan cara yang seperti apa. Allah tidak memandang tua-muda, kaya-miskin, sehat-sakit, pejabat maupun rakyat jelata. Kematian datangnya tiba-tiba dan kita tidak dapat menghindar, bahkan tidak bisa menawar. Seperti dalam kematian Uje (ustad Jefry Al Bukhori), siapa yang menyangka bahwa kematian yang dialami oleh beliau begitu cepat dan ketika pada puncak karir sebagai pendakwah. Tentunya, ini semua sudah ditakdirkan oleh Allah, tinggal menunggu kapan giliran kita. Allah telah berfirman dalam surat Al Jumu’ah ayat 8, “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Kemudian kita mempertanyakan, apa itu kematian? Dalam menjawab pertanyaan ini setidaknya terdapat lima pengertian menurut ulama tentang kematian. Pertama, hilangnya potensi hidup. Dalam hal ini, salah satu contohnya adalah kebodohan. Potensi kita sebagai manusia tentunya karena telah dibekali oleh Allah dengan akal dan potensi-potensi lainnya, dan dengan nikmat tersebut haruslah diasah serta dikembangkan. Kedua, hilangnya rasa. Seperti rasa pahit, sakit, dll. Ketiga, hilangnya akal. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa yang membedakan kita (baca: manusia) dengan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan adalah dengan dibekalinya akal. Jadi, dengan akal kita mampu membedakan benar-salah serta baik-buruk suatu hal atau perkara. Keempat, rasa takut yang berlebihan. Dalam hal ini, seakan-akan sesuatu dapat membuat kita celaka, mati, dll. Kelima, orang tidur. Tidur dapat dikategorikan sebagai orang yang mati. Tidak jarang ada manusia yang mati saat tidur dan tidak bangun lagi. Dari kelima pengertian tersebut, dapat kita pahami bahwa kematian adalah perpindahan dari kehidupan dunia ke dunia selanjutnya (baca: akhirat).

Sebagai orang mukmin, dalam menyikapi kematian seharusnya dengan rasa kebahagiaan. Bagaimana tidak, jika kita mendambakan surga-Nya Allah, maka kita harus melalui fase kematian dulu. Itu tidak dapat dipungkiri lagi, karena kematian merupakan hak prerogatif Allah terhadap makhluk-Nya. Mati hanya perpindahan saja, maka tidak perlu ditangisi. Jika kita dapat berpikir positif, maka saat Allah memanggil orang yang kita cintai, maka itu merupakan bentuk kasih sayang Allah karena Allah merasa orang tersebut sudah layak menuju kehidupan selanjutnya. Berpikir positif dapat diwujudkan dalam bentuk sabar. Karena apa? Allah telah mengajari kita untuk senantiasa bersabar seperti yang termaktub dalam surat Al Baqarah ayat 153, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. Ini menandakan bahwa, ketika kita diuji dengan adanya kematian, kita senantiasa selalu sabar dan berpikir positif, bukan sebaliknya. Karena, jika kita dapat bersabar, maka kita akan lulus ujian sehingga dapat meningkatkan derajat keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt.

Setiap dalam diri orang mukmin selalu mendambakan kematian yang husnul khatimah, karena jika memperoleh predikat tersebut, maka niscaya surga adalah sebaik-baik tempat untuk dia. Namun, yang dapat menilai orang yang meninggal tersebut berpredikat husnul khatimah atau tidak, hanyalah Allah swt. Setidaknya, kita dapat merencanakan atau mempersiapkan diri agar memperoleh gelar husnul khatimah. Adapun ciri-ciri atau tanda-tanda sifat orang yang memperoleh husnul khatimah adalah sebagai berikut.

pertama, ketika meninggal dunia, dia mengucapkan syahadat atau la ilaha illallah, maka akan dijamin masuk surga. Dalam salah satu hadis dikatakan, “siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat la ilaha illallaah ia akan masuk surga)” (HR. Al-hakim).

Kedua, orang yang meninggal pada malam Jumat atau hari Jumat. “Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari jumat atau malam jumat kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur” (HR. Ahmad At-Tarmidzi).

Ketiga, meninggal karena di medan perang. Perang di sini, dapat diartikan memerangi orang-orang kafir. Orang yang meninggal ketika berperang (medan perang). Dalam surat Ali Imran ayat 169-171, Allah swt. berfirman, “Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka dan mereka begirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (yang masih berjihad di jalan Allah) yang belum menyusul mereka. Ketahuilah tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman”.

Keempat, orang yang meninggal di jalan Allah atau fi sabilillah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Barangsiapa meninggal dunia di jalan Allah, maka dia mati syahid”.

Kelima, orang yang meninggal dunia dengan mengalirkan keringat dari dahi. Berdasarkan hadis Buraidah bin Al-Hashib, lantas dia berkata, “Allahu Akbar, aku pernah mendengar rasulullah bersabda: kematian seorang mukmin itu ditandai dengan keringat di dahinya”. Yang dimaksud “keringat” dalam hadis tersebut adalah menunjukkan beratnya kematian yang sedang dihadapinya sehingga menyebabkan dahinya berkeringat, hal itu sebagai pelebur dosa-dosanya.

Keenam, orang yang meninggal karena penyakit tha’un. Yang dimaksud dengan penyakit tersebut adalah wabah penyakit (sejenis penyakit kulit) yang terjadi pada seseorang. Alasan kenapa penyakit ini menjadi salah kategori mati syahid adalah dengan tertimpa penyakit tersebut,  maka menjadi rahmat bagi orang yang beriman dengan cara menyikapinya dengan rasa sabar dan lapang dada terhadap cobaan yang diberikan oleh Allah, lalu ketika dia meninggal, maka pahalanya adalah senilai syahid.

Ketujuh, orang yang meninggal karena penyakit perut.

Kedelapan, orang yang meninggal karena tenggelam.

Kesembilan, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan.

Kesepuluh, orang yang meninggal karena terbakar.

Kesebelas, orang yang meninggal karena penyakit radang selaput dada.

Kedua belas, seorang wanita yang meninggal karena mengandung (hamil).

Ketiga belas, orang yang terbunuh karena membela hartanya.

Keempat belas, orang yang terbunuh karena membela keluarganya.

Kelima belas, orang yang terbunuh karena membela agamanya.

Keenam belas, orang yang terbunuh karena jiwanya.

Ketujuh belas, orang yang terbunuh karena haknya diambil secara dzalim.

Kedelapan belas, orang yang meninggal karena penyakit TBC (Tuberculosis adalah suatu penyakit mematikan karena kuman Mycobacterium Tuberculosis).

Yang terakhir, atau kesembilan belas, orang yang meninggal dalam keadaan beramal saleh. “Siapa yang bersedekah (ikhlas) ketika itu meninggal, maka masuk surga” (HR. Ahmad).

Kebalikan dari husnul khatimah adalah suul khatimah (mati dalam keadaan buruk), tentunya predikat suul khatimah sangat dihindari dan dijauhi oleh orang mukmin. Wajar rasanya, ketika setiap manusia akan mendambakan husnul khatimah dan akan menjauhi suul khatimah. Namun, sudah sering kita jumpai bahwa banyak orang yang mati dengan sangat tragis (baca: karena berpaling dari agama Allah).  Maka, kita patut mawas diri dan berusaha untuk tidak berada di ujung kehidupan yang semacam itu. Ciri-ciri dari suul khatimah adalah durhaka terhadap Allah swt. semisal sedang berzina, mencuri, minum-minuman keras, dll; selanjutnya ketika sedang sakaratul maut, dia tidak mau mengucapkan syahadat (yang berbunyi: la ilaha illallah), namun malah memaki-maki orang yang membimbingnya supaya mengucapkan syahadat. Lalu, mengapa orang bisa memperoleh predikat suul khatimah? Alasannya terdapat beberapa hal, antara lain: rusak akidahnya, terus-menerus melakukan kemaksiatan, tidak istiqomah (angin-anginan dalam berbuat kebaikan), imannya lemah dikarenakan lemah pula rasa cinta kepada Allah ketika meninggal yang diingat hanya dunia (baca: harta, tahta, dan wanita).

Kemudian, setelah kita mengetahui ciri-ciri orang yang husnul khatimah dan suul khatimah, maka apa yang bisa kita rencanakan atau setidaknya kita tindak lanjuti supaya memperoleh predikat husnul khatimah? Setidaknya terdapat enam hal yang mungkin akan dapat kita renungkan bersama bahwa hal-hal inilah yang nantinya perlu kita berikan porsi yang lebih agar senantiasa dekat kepada husnul khatimah. Yang pertama, menjaga keimanan dari hal-hal yang membatalkan. Salah satu cara agar keimanan kita tetap ada yaitu dengan cara selalu mengingat mati serta meyakini kehidupan di dunia ini hanya sementara. Kedua, segera membiasakan diri dengan amal-amal saleh (secara rutin dan akhirnya menjadi kebiasaan), misalkan membiasakan salat berjamaah di awal waktu. Ketiga,  segera bertaubat dari segala kesalahan. Dalam suarat Ali Imran ayai 135 disebutkan, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” Keempat, mengakrabi Al Quran. Selain untuk dibaca, Al Quran sebaiknya selalu dikaji maknanya, serta diaplikasikan dalam keseharian kita, karena Al Quran sebagai pembimbing dan petunjuk bagi kita semua. Kelima, mencari teman yang baik. Ada riwayat yang mengatakan bahwa siapa yang berteman dengan penjual minyak wangi, maka ia pun akan terkena wanginya. Ini menandakan bahwa pergaulan sangat menetukan sikap dan perilaku keseharian kita. Maka dari itu, kita harus panda-pandai dalam memilih teman dan pergaulan, karena teman menetukan agama kita. “Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang di antara kalian mencermati kepada siapa ia berteman” (HR. Tirmidzi). Keenam, pertolongan Allah. Poin yang terakhir ini, sangatlah menetukan kita dalam memperoleh predikat husnul khatimah. Karena rida dan rahmat Allahlah yang kita butuhkan. Meskipun kita telah melakukan amal-amal saleh, namun belum tentu memperoleh rida dan rahmat dari Allah. Mungkin dalam kita melakukan amal-amal saleh masih dihinggapi persaan “pamer” (riya’) atau ingin dihormati oleh orang lain. Maka, sudah sepatutnya kita selalu memohon pertolongan Allah agar memperoleh husnul khatimah ketika kita mati. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. Ali Imran: 8).

Dengan memahami penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa husnul khatimah adalah saat Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya, serta sebagai hamba senantiasa menjauhi segala sesuatu yang membuat Allah murka, dan melakukan amal saleh menjelang detik-detik kematian. Konsep kebaikan menurut Rasulullah adalah jangan pernah meremehkan (dan merendahkan) setiap suatu kebaikan kecil (apa pun itu), walaupun yang bisa kita lakukan itu adalah senyum. Karena senyum yang tulus ikhlas termasuk sodaqoh. Orang yang masuk surga, karena rahmat dari Allah, bukan sekadar dari amal kita. Maka, perlu kiranya kita selalu mengingat mati serta memperbarui niat yang baik sehingga kita akan memperoleh predikat husnul khatimah. Insya Allah.

Wallahualam

Fastabiqul Khairat!!

Pos ini dipublikasikan di Bacaan, Uncategorized. Tandai permalink.

Terima kasih atas komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s