Bil Hikmah

Bil Hikmah

Oleh : Imron Wafdurrahman

“waltakum minkum ummatu yad’uuna ilal khoiri wa yakmuruna bil makrufi wa yan hauna anil munkar”. Sebuah pesan singkat yang telah dikirimkan Allah, termaktub dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Ajakan dalam kebaikan, dan mencegah pada kemunkaran. Seruan tersebut akhir-akhir ini sering terbersit kedalam telinga kita sebagai kaum muslimin. Di bulan yang penuh kemuliaan ini, banyak sekali tokoh agamawan dan da’i dengan giat mengingatkan kita sebagai kaum muslimin, untuk terus dan selalu melakukan hal-hal kebajikan dan menjauhi segala kemungkaran. Subhanallah, sungguh kesucian yang tulus yang insyaAllah akan terbangun secara berlanjut dalam bulan suci Ramadhan kali ini.

Mengajak kepada kebaikan adalah tugas seluruh umat manusia di muka bumi. Semangat tersebut guna mewujudkan cita-cita mulia masyarakat yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur. Namun, ada satu hal pokok yang semestinya perlu diketahui tentang semangat bil makruf tersebut. Apakah gerangan?

Bani Israil, sering sekali dalam Al-Qur’an nama tersebut disebutkan. Israil adalah sebutan bagi Nabi Ya’kub as. Bani Israil sendiri merupakan keturunan dari Nabi Ya’kub as, atau sekarang dikenal dengan nama bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi adalah musuh utama umat Islam. Banyak diantara da’i dan ulama yang gencar menyuarakan dakwah untuk memerangi kaum Yahudi. Terlepas dari hal tersebut, kita juga harus bercermin diri terhadap apa yang telah kita perbuat selama menjadi muslim. Bisa jadi, kita yang mengaku umat Islam malah mencerminkan perbuatan-perbuatan yang selayaknya tidak terdapat dalam umat Islam.

Ada beberapa ciri kaum Yahudi yang dijelaskan dalam alkuranulkarim. Diantara yang dituliskan dalam al-qur’an adalah; 1) mereka mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan, 2) menyembunyikan kebenaran sedangkan ia mengetahuinya, 3) menyuruh kepada kebajikan. Dari 3 hal yang dipaparkan tersebut, disini akan diambil poin terakhir, yakni menyuruh kepada kebajikan.

Menjadi sebuah pertanyaan besar, setelah kita ketahui ternyata dalam ajaran Yahudi juga mengajarkan umatnya untuk menyuruh kepada kebajikan. Lantas, apakah yang membedakannya dengan umat Islam?

Penjelasan tersebut dapat ditemukan dalam Q.S. Al-baqarah; 44. Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya kaum Yahudi menyuruh orang lain untuk mengerjakan kebajikan, sedangkan mereka melupakan dirinya sendiri. Mereka menyuruh orang lain untuk berbuat baik, namun mereka sendiri tidak melakukannya. Itu artinya, terdapat kebhatilan antara ucapan dan perbuatan yang mereka lakukan. Itulah yang menjadi pembeda umat Islam dan kaum Yahudi.

“ud’u ila sabili robbika bil hikmah wal mau’idhotil hasanah wa jadilhum bil lati hiya ahsan”, artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (Q.S. An-Nahl: 125)

Tanpa perlu mengkorelasikannya dengan realita yang ada dalam umat Islam. Marilah, hal tersebut mulai kita tanamkan dalam benak jiwa yang terdalam. Semoga kita semua menjadi pelopor umat untuk menyuarakan semangat amar makruf nahi munkar yang juga tercermin dari perbuatan dan tingkah laku kita sehari-hari. Sehingga, kita tidak di cap sebagai ulama, da’i, atau tokoh masyarakat yang hanya bisa memerintah, tanpa ada sebuah keteladanan dari diri kita sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Terima kasih atas komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s