Bangsa yang Selalu Berpuasa

Bangsa yang Selalu Berpuasa

Oleh: Faisal Isnan

Marhaban ya Ramadhan!

Alhamdulillah, sungguh beruntung kita sebagai umat Islam yang masih diberikan kesempatan sekali lagi untuk berjumpa dengan bulan yang selalu dinanti-nanti, bulan yang setiap amal baik akan dilipatgandakan pahalanya, bulan di mana umat Islam di segala penjuru dunia menanti datangnya ampunan dari Allah swt., yaitu bulan suci Ramadan. Puasa tidak hanya menahan rasa haus dan lapar, tetapi juga terdapat sebuah pengakuan sekaligus bentuk kepasrahan diri kita kepada Sang Khalik demi menunjukkan bahwa kita merupakan hamba yang takwa. Dalam momen yang sungguh luar biasa ini, marilah kita laksanakan ibadah puasa Ramadan dengan penuh keikhlasan dan keimanan semata-mata hanya mengharap rida dari Allah swt.

Bangsa Indonesia selalu memperoleh ujian, baik diuji dengan cobaan berupa bencana alam: gempa, banjir, tsunami, kebakaran, dsb. Kemudian diuji pula oleh perilaku pejabat-pejabat negara yang korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, grativikasi, nepotisme, dll. sehingga memperkerdilkan bangsa sendiri, baik di mata masyarakat Indonesia maupun dunia. Semangat berpuasa setidaknya selalu digelorakan di dalam keseharian kita, atau dengan kata lain selalu dilakukan meskipun bukan di bulan Ramadan. Puasa dalam hal ini merupakan esensinya. Setidaknya, puasa mampu meredam segala perilaku yang bersifat kurang baik. Puasa merupakan tembok yang kokoh yang siap menahan dari segala ancaman perilaku keji dan munkar.

Kondisi di masyarakat kita sungguh menjadi sebuah paradoksa dari seruan-seruan Allah untuk menjadi khairu ummah (umat terbaik). Seperti halnya dalam QS. Ali Imran ayat 110: Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan) dan beriman kepada Allah. Kita diperintahkan setidaknya menjadi manusia yang selalu berpegang teguh akan prinsip-prinsip dalam menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran dengan berlandasakan iman yang paripurna.

Dengan berpuasa, maka kita akan dibimbing dalam berpuasa untuk mengambil hak orang lain, berpuasa dari segala pikiran kotor yang tidak ada manfaatnya,  berpuasa dalam mencaci maki seseorang yang telah membuat kita kecewa, dan berpuasa dari sifat malas sehingga menjadikan kita sebagai pribadi yang selalu rajin beribadah, bekerja, dan belajar. Maka, kita perlu melakukan mujahadah, yang berarti mencurahkan segala kemampuan untuk melepaskan diri dari segala hal yang menghambat pendekatan diri terhadap Allah swt., baik hambatan yang bersifat internal maupun eksternal.

Hambatan yang bersifat internal datang dari jiwa yang mendorong berbuat keburukan, hawa nafsu yang tidak terkendali, dan terlalu mencintai dunia. Sedangkan, hambatan yang bersifat eksternal datang dari setan, orang-orang munafik, kafir, serta pelaku kemaksiatan dan kemungkaran. Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut, maka diperlukan kemauan keras dan perjuangan yang sungguh-sungguh. Maka perjuangan itulah yang disebut dengan mujahadah atau jihad.  Allah berfirman dalam QS. Al Ankabut ayat 69: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Bisa dibayangkan bahwa antara nafsu dan iman jaraknya sangat tipis mungkin lebih tipis dari sehelai rambut. Kadang kita menutup-nutupi nafsu maupun perbuatan tercela kita dengan seolah-olah beriman (baca: munafik), namun sesungguhnya Allah Maha Tahu apa yang ada di hati hambaNya. Baik nafsu maupun iman, bagaikan dua hal yang saling menekan. Di kubu nafsu, para iblis tidak henti-hentinya memberikan support demi menyusutkan iman dalam hati seseorang. Di kubu yang lain, iman di-back up oleh malaikat-malaikat yang senantiasa selalu berada di sekeliling manusia yang bertugas menaikkan keimanan seseorang. Ketika nafsu sudah tidak terkendali, kemudian berhasil menang telak atas keimanan, maka keimanan akan didikte oleh nafsu sehingga perilaku kita senantiasa mencerminkan sifat iblis. Sebaliknya, ketika keimanan kita mampu memporak-porandakan nafsu, maka giliran iman yang akan mendominasi dalam diri kita sehingga perbuatan kita senantiasa mencerminkan sebagaimana orang yang bertakwa. Orang yang benar-benar beriman, dirinya akan selalu merasa diawasi Allah sehingga tidak sempat memikirkan perbuatan munkar.

Berpuasa selalu membimbing kita kepada sesuatu yang baik. Berpuasa di bulan Ramadan menjadikan kita pribadi yang selalu taat kepada Allah. Semula tidak rajin pergi ke masjid, maka pada bulan Ramadan kita selalu dibimbing agar mendekat dengan masjid, yang semula kita jarang membaca Al Quran maka pada bulan Ramadan kita selalu terdorong menjadi rajin membaca Al Quran, begitu juga dengan yang semula jarang ber-sodaqoh maka pada bulan Ramadan kita tanpa ragu-ragu mengeluarkan sebagian harta kita kepada yang membutuhkan, dan masih banyak lagi terjadi perubahan yang signifikan ketika kita berpuasa. Semua itu karena kita berpuasa dengan berlandaskan hati yang tulus dan ikhlas karena hanya ingin mengharap rida dari Allah swt.

Semangat puasa sungguh sangat luar biasa, semangat itulah yang diperlukan bangsa ini untuk menatap masa depan yang cerah. Semangat puasa Ramadan coba kita hadirkan dalam keseharian kita untuk mengarungi sebelas bulan di luar bulan Ramadan. Insya Allah cita-cita untuk menjadi negara baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sekaligus umat di dalamnya akan bergelar orang yang bertakwa (muttaqin) akan terwujud. Amin.

Fastabiqul Khairat!

Yogyakarta, 29 Juli 2013 M

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Terima kasih atas komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s