Islam Itu Hebat !

Islam Itu Hebat !

Oleh : Satrio Aji P.

Belakangan muncul beberapa fenomena di Indonesia, yang berhubungan, bersinggungan ataupun mengatasnamakan Islam. Munculnya kasus Syiah Sampang, konflik Ahmadiyah, hingga pengakuan oknum sebagai nabi palsu menunjukan bahwa memang, negeri ini merupakan wilayah kedaulatan yang mayoritas berpenduduk muslim. Namum di sisi lain, tampak dari kasus yang telah disebutkan tadi bahwa Islam di negeri kita ini baru sampai pada, meminjam istilah yang digunakan Prof. Dien Samsyudin, mayoritas kuantitatif. Dengan presentase sebesar 88%, Islam di Indonesia tampaknya masih sebatas agama mayoritas di level kuantitatif/jumlah saja. Kita belum sampai pada kemayoran kualitatif. Kita harus mengakui bahwa umat Islam belum bisa memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang muncul dalam ummat. Kasus-kasus kemanusiaan masih saja terjadi di negeri ini. Praktik korupsi, kriminal, dan praktik-praktik setan lainnya seperti enggan berhenti di negeri ini. Bagaimana hal ini kemudian bisa terjadi? Islam sebagai jalan hidup terbaik tampaknya belum secara kaffah dipahami oleh masyarakat kita.

Membicarakan Islam sebagai pilihan seharusnya kita lakukan kepada orang-orang yang belum memilih Islam. Tetapi, hal ini ternyata juga perlu kita laksanakan sebagai ajang diskusi dan muhasabah tentang bagaimana dan sejauh mana kita berislam. Apakah kita sudah menemukan bahwa Islam itu hebat? Bahwa Islam adalah sebaik-baik jalan hidup? Atau hanya karena keluarga kita Islam sehingga kita memilih Islam sebagai status agama kita? Apa hanya karena kita berada di negara yang bermayoritas Islam sehingga kita memilih Islam?

Kita tentu harus yakin bahwa Islam masih dan akan selalu menjadi agama terbaik di bumi ini. Fenomena yang terjadi di berbagai belahan bumi, khususnya Indonesia bukan merupakan akibat dari kurang sempurnanya agama yang dibawa Rasulullah ini, melainkan karena faktor-faktor dari umatnya yang membuat demikian.  Perlu kita pahami bersama bahwa Islam adalah agama pembebasan.  Lafadz “La ilaha illallah” sebagai kalimat syahadat yang menjadi inti aqidah, ketika kita maknai secara mendalam, adalah sebuah kalimat pembebasan. Tiada tuhan selain Allah, Islam ingin supaya manusia tidak mempertuhankan apapun selain Allah. Islam tidak menyuruh kita untuk menyembah batu, gunung, matahari, manusia, atau benda-benda fana lainnya. Hikmah nyata bisa dilihat ketika di zaman jahiliah, bahwa waktu itu banyak sekali praktik perbudakan yang memberikan gambaran sebuah ketidak-berperikemanusiaannya manusia zaman itu. Kemudian setelah munculnya Islam, praktik perbudakan yang bertentangan dengan ajaran Islam lama-kelamaan hilang. Tidak seorangpun yang memiliki hak menjadi tuhan manusia yang lain. Manusia hanya boleh untuk mengabdi sepenuh hati kepada Allah swt, dan mengabdi kepada selainNya maka akan mendapat predikat Syirik.

Hal kedua yang perlu kita ingat adalah Islam yang lain adalah Islam mengukur orang dari amalnya. Dalam Alquran (kitab suci umat Islam) surat Al-Hujurat ayat 13  Allah swt berfirman “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”. Di sini secara gamblang kita diingatkan bahwa semakin tinggi tingkat ketakwaan kita yang kita manifestasikan dalam bentuk beramal, maka semakin tinggi derajat kita di mata Allah, yang berarti semakin besar pula ridho Allah kepada kita. Dalam sistem ini, bukan kemudian siapa yang lebih pintar ataupun kaya akan lebih mendapatkan syafaat dariNya, tetapi bagaimana kita sebagai makhluk yang berakal memaksimalkan potensi diri untuk selalu beramal dan mendasarkan segala perbuatan hanya karena Allah. Sistem Islam ini merupakan sistem yang logis dan adil bagi smua kalangan.

Apa yang terjadi saat ini adalah munculnya sistem perbudakan modern akibat arus globalisasi dan perkembangan teknologi. Orang-orang zaman sekarang diperbudak oleh kemewahan, gengsi hingga pekerjaan. Orang-orang tidak lagi menjadi dirinya sendiri, menjadi insan yang seharusnya hanya kepada Allah dia mengabdi. Porsi pengabdian hakiki kepada Allah semakin tergerus ketika pengabdian kepada urusan duniawi semakin meninggi. Naudzubillah. Munculnya sistem-sistem baru dalam kehidupan seperti feodalisme (sistem yang didasarkan atas asas keturunan), kapitalisme (sistem yang didasarkan pada kekayaan dan modal) serta sistem-sistem lain yang tidak mengarah kepada keadlian yang saat ini sedang berjalan semakin menambah parah penyakit ‘dzalim’ umat manusia. Islam belum sepenuhnya dijadikan solusi atas kesalah-kaprahan yang terjadi selama ini.

Adalah seorang Ummar bin Khatab ra, seorang tokoh yang dulunya merupakan orang Quraisy yang bengis, kejam, dan bisa dibilang representasi dari masyarakat Jahiliah di masa itu. Bukan hanya manusia, setanpun terbirit-birit ketika Umar lewat. Sosok manusia yang jauh hidayah Allah begitu diwakili olehnya. Tetapi semenjak berkeyakinan Islam, Umar menjadi sesosok manusia yang sampai sekarang menjadi teladan bagi umat Islam. Sosok kejam dan penyiksa berubah menjadi sosok lemah lembut dan penyayang. Praktek-praktek syetan seperti perbudakan, pembunuhan dia tinggalkan. Ketika menjadi pemimpin, dia tak segan-segan mengintari kampung untuk membagi makanan kepada rakyatnya yang miskin, tanpa harus gengsi atau berpikir rugi. Subhanallah!. Kisah ini merupakan sebuah representasi kekafahan Islam yang dimiliki seorang muslim. Jika satu orang saja bisa begitu menginspirasi, alangkah hebatnya jika ratusan juta umat Islam bersama-sama menjadi masyarakat Islam yang sebenar-benarnya!

Satrio Aji P

Jamaah Masjid Al-Ikhlas

Anggota IMM A.R. Sutan Mansur UNY

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Terima kasih atas komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s